Kamis, 21 Februari 2013

Metodologi Penelitian



JUDUL - 1
B.Tabrakan Kapal, KM Bahuga Jaya           di Selat Sunda
Tujuh orang tewas sementara 208 orang dievakuasi akibat tabrakan antara kapal feri dan kapal kargo di Selat Sunda.

Suasana di Selat Sunda.
Pejabat pemerintahan mengatakan bahwa tujuh orang tewas setelah kapal motor cepat yang ditumpanginya tabrakan dengan kapal tanker dan tenggelam di Selat SundaJuru bicara Kementerian Perhubungan Bambang Ervan, seperti dikutip kantor berita Associated Press, mengatakan bahwa 208 awak kapal dan penumpang telah dievakuasi setelah kecelakaan yang terjadi Rabu (26/9) subuh.

Masih belum jelas berapa jumlah penumpang yang ada di kapal motor cepat, yang memiliki sekitar 30 awak kapal itu.Kapal motor cepat Bahuga Jaya yang berlayar dari Jawa ke Sumatera itu tenggelam setelah tabrakan dengan kapal tanker berbendera Singapura Norr Gastar , sekitar enam kilometer dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lampung Budiharto kepada VoA menjelaskan kapal tanker itu mengangkut minyak gas dari Afrika Selatan menuju Singapura.

“[Faktor] cuaca saya kira tidak, kan mereka punya lampu dan radar kapal. Hingga kini masih dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan di bawah koordinasi Badan SAR Nasional. Tim SAR gabungan ini dari Marinir, TNI AL, Polisi Air Udara (Polairud) dan SAR Jakarta, kurang lebih 40 orang. Pencarian ini dilakukan dalam beberapa hari ke depan, tergantung dari Basarnas,” ujar Budiharto.

Ketua Forum Transportasi Laut Masyarakat Transportasi Indonesia Ajiph Razifwan Anwar memperkirakan ada dari kedua awak kapal yang tidak mematuhi aturan navigasi ketentuan internasional tentang Peraturan Pencegahan Tabrakan Kapal (International Regulations for Preventing of Collisions at Sea 1972).



JUDUL - 2
Feri Terbalik di India, Ratusan Orang Hilang 103 Tewas
Polisi mengatakan feri yang mengangkut sekitar 350 penumpang pecah dan tenggelam di Sungai Brahmaputra di negara bagian Assam, Senin (30/4).
Warga desa Buraburi menarik bangkai perahu yang terbelah dari sungai Brahmaputra (1/5). Regu penyelamat dan penyelam telah menemukan sedikitnya 100 korban musibah tersebut, dan selebihnya masih dinyatakan hilang.

Para pejabat India mengatakan hujan lebat dan kegelapan membuat operasi tim SAR ditangguhkan setelah setidaknya 103 orang tenggelam akibat feri yang penuh sesak terbalik di salah satu sungai terbesar India.

Upaya untuk menemukan lebih dari 100 orang lainnya akan dilanjutkan Selasa pagi. Kapal bertingkat dua itu dipenuhi orang, karung-karung beras dan barang-barang lain, dan tidak memiliki sekoci ataupun jaket pelampung.

Kapal yang sarat itu memuat 300 orang penumpang serta berkarung-karung beras dan barang lain. Tidak ada sekoci atau jacket pengapung dalam kapal. Kecelakaan itu adalah yang paling buruk dalam ingatan di daerah bagian timur-laut India.  Para petugas pertolongan terhambat oleh hujan lebat dan angin kuat.

Pihak berwenang India mengatakan mereka menghubungi pejabat di Bangladesh meminta bantuan mencari korban selamat. Perdana Menteri India Manmohan Singh mengatakan ia terkejut dan berduka akibat insiden itu.

Brahmaputra, salah satu sungai terbesar di Asia, berhulu di Tibet dan mengalir lewat India dan Bangladesh menuju Teluk Benggala.


DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………….   I

Daftar isi…………………………………………………………………………..…...  II

A .      Analisa Penyebab Tubrukan Kapal di Laut………………………..………..   1

B.      Tabrakan Kapal Ferri dan Kapal Tanker  di Selat Sunda…….…….……...... 3

C.      Perumusan Masalah dan Hipotesis Penelitihan Tabrakan Kapal Ferri……...5

D.      Artikel Kapal Ferri terbalik di india Menjadi 103 orang  …… ……….….…. 6

E.      Perumusan Masalah dan Hipotesis Penelitihan tentang
          Kapal Feri terbalik di india di india Menjadi 103 orang  ………………..…..  7

F.       Referensi………………………………………………………………………….8








A.Analisa Penyebab Tubrukan Kapal di Laut
Bagi kebanyakan masyarakat dapat dipastikan bertanya-tanya, laut yang begitu luas masih juga terjadi tubrukan kapal, yang disayangkan terdapat korban jiwa.
Di atas kapal, terdapat beberapa jabatan, diantaranya, Nahkoda (Kapten Kapal), Mualim (Perwira Deck), Masinis (Perwira Mesin), Bosun (Juru Serang/Mandor Deck), Juru Mudi, Juru Minyak, Koki dan Pelayan.
Adalah seorang Nahkoda/Kapten Kapal yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan kapal,
crew, lingkungan dan cargo yang dibawanya.
Dan seorang Nahkoda memiliki otoritas penuh untuk mengambil segala macam tindakan untuk tetap aman. Hal ini karena hirarki dikapal sudah baku, walaupun pada saat kejadian Nahkoda tidak berada di anjungan, hanya Mualim Jaga dan Juru Mudi.
Penulis akan mencoba meng-analisa kasus tubrukan yang terjadi di Selat Sunda, berdasarkan ColReg (International Regulations for Preventing Collisions at Sea)
atau yang di kenal di Indonesia dengan sebutan P2TL (Peraturan tentang Pencegahan Tubrukan di Laut) antara KM (Kapal Motoor) Bahuga Jaya dengan MT (Motoor Tanker) Nor Gaftar (mohon maaf bila nama kapal salah, karena banyak diberitakan dengan nama berbeda-beda)
Terlalu naif bila alasannya pada akhirnya akibat dari cuaca, karena sekarang setiap kapal sudah diharuskan dilengkapi dengan peralatan-peralatan elektronik guna membantu bernavigasi, dan peralatan tersebut masing-masing memiliki back up tenaga cadangan apabila terjadi keadaan darurat dan ada juga peralatan yang diharuskan dimiliki 2 buah, seperti Radar dan GPS (Global Positioning System). Seperti di wajibkan dalam SOLAS (Safety of Life at Sea). Walaupun tidak menutup kemungkinan cuaca dapat mempengaruhinya.
Setelah ber-googling untuk mengetahui posisi dan situasi kedua kapal pada saat tubrukan, penulis mendapatkan gambaran tentang posisi kedua kapal pada saat terjadi tubrukan. Dapat dilihat di sini http://m.liputan6.com/read/440109/kapal-bahuga-jaya-ditabrak-di-lambung-kiri.
Ada terdapat banyak pasal di dalam ColReg, namun untuk memudahkan di mengerti (dan juga agar singkat . Penulis hanya akan membahas tentang beberapa pasal saja.
Pasal 10.
Traffic Separation Scheme (tata pemisahan lalu lintas).
Huruf a - l.
Penulis tidak akan menjabarkan pasal ini, karena di selat sunda tidak ada TSS.
Selat Sunda merupakan selat tersibuk di Indonesia, namun disana belum/tidak ada TSS, fungsi TSS adalah untuk memisahkan pergerakan kapal yang memiliki arah berbeda. Atau dijalan raya seperti Jalur dua arah. Maka dapat dipastikan lalu lintas di selat sunda belumlah teratur.
Pasal 15.
Crossing situation (Situasi memotong).
When two power-driven vessels are crossing so as to involve risk of collision, the vessel which has the other on her own starboard side shall keep out of the way and shall, if the circumstances of the case admit, avoid crossing ahead of the other vessel’.
Intinya, kapal (tenaga) yang mendapatkan kapal
lain di kanannya harus menghindar, dan berusaha menghindari memotong haluan.
Pasal 16.
Action by give-way vessel.
(Tindakan Kapal yang menghindar).
‘Every vessel which is directed to keep out of the way of another vessel shall, so far as possible, take early and substantial action to keep well clear’.
Intinya, lakukan tindakan sedini mungkin + tegas (rubah haluan yang besar agar terpantau melakukan perpindahan haluan) lakukan pada sektor awal (3 - 6 mil laut).
Pasal 17.
Action by stand-on vessel.
(Tindakan kapal yang bertahan).
(a) (i) ‘where one of two vessels is to keep out of the way the other shall keep her course and speed’.
Intinya, Bertahan = mempertahankan haluan dan kecepatan.
(ii) ‘The latter vessel may, however, take action to avoid collision by her manoeuvre alone, as soon as it becomes apparent to her that the vessel required to keep out of the way is not taking appropriate action in compliances with these rules’.
Intinya: Dapat melakukan tindakan menghindari tubrukan hanya dengan olah geraknya. Segera setelah kapal yang diwajibkan menghindar tidak melakukan tindakan.

(d) ‘This rule does not relieve the give-way vessel of her obligation to keep out of the way’.
Intinya, Kapal yang diwajibkan menghindar, tidak dibebaskan untuk tetap melakukan aturan ini.
Demikianlah penjabaran yang penulis ketahui berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.
Kiranya penjabaran ColReg diatas dapat memberikan gambaran atas tindakan yang seharusnya di ambil oleh Perwira Jaga yang bertugas untuk menghindari tubrukan tersebut.



KATA PENGANTAR

Dengan ini penyusun memanjatkan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan anugerah NYA sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah tugas “ Hipotesis Penelitian” Mengenai Tubrukan Kapal dilaut.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini.Penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menyempurnakan tugas ini.
Laporan tugas mandiri ini untuk meneliti Hipotesis Tentang tubrukan kapal laut yang merupakan bidang studi metadologi. Akhir kata semoga Artikel ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya.



C. Perumusan Pokok masalah dari Artikel Tabrakan di Selat Sunda antara lain
A . Apakah terdapat hubungan antara Tubrukan Kapal Tanker dengan Kapal Penumpang

      KM.Bahuga Jaya,karena Crew Kapal tidak Memahami Peraturan (COLREG)
      saat berada di Perairan sempit?
                  * . Variabel X antara lain : Tubrukan,Kapal Tanker dengan Kapal Penmpang
                  * . Variabel Y antara lain : Memahami,Perairan Sempit

 B.  Apakah terdapat pengaruh Cuaca Buruk dan Gelombang besar saat terjadi    Tubrukan
                 Kapal Tanker dan Kapal Penumpang di Selat Sunda?
                 *.  Variabel X antara lain : Cuaca Buruk dan Gelombang, Kapal Tanker dan                  
                                                             Kapal Penumpang
                 * . Variabel Y antara lain : Pengaruh,Tubrukan
Hipotesis Penelitihan dari Artikel ini adalah sebagai berikut :
      A. .Diduga Kecelakaan tubrukan kapal KM Bahuga Raya bukan disebabkan oleh faktor
cuaca karena pada kapal KM Bahuga Raya terdapat radar dan lampu navigasi yang
bekerja sangat baik sehingga kopetensi dari kedua awak kapal tentang navigasi
perlu di selidiki.
B.        Adanya pengaruh ketrampilan kedua awak kapal sangat menentukan kedua awak

kapal yang   tidak  mematuhi aturan navigasi ketentuan internasional tentang

Peraturan  Pencegahan  Tabrakan  Kapal  (International Regulations for Preventing

of Collisions at Sea 1972).





E. Perumusan Pokok masalah dari Artikel Kapal Ferri terbalik di India  antara lain
A . Apakah ada faktor Human Error yang mengakibatkan kecelakaan terbaliknya kapal  penumpang dan menewaskan103  orang  dan tidak terdapatnya sekoci  di kapal yang merupakan kecelakaan Maritim terburuk Di India .
                  * . Variabel X antara lain : Terbalik, dan menewaskan, sekoci
                  * . Variabel Y antara lain : kecelakaan, terburuk, alat keselamatan
B. Apakah terdapat pengaruh Cuaca Buruk dan Gelombang besar saat kapal terbalik?
                 *.  Variabel X antara lain : Cuaca Buruk dan Gelombang,
                 * . Variabel Y antara lain : Pengaruh,Tubrukan
Hipotesis Penelitihan dari Artikel ini adalah sebagai berikut :

A.    Diduga Kapal yang sarat itu memuat 300 orang penumpang serta berkarung-karung

beras dan   barang lain. Tidak ada sekoci atau jacket pengapung dalam

 kapal. Kecelakaan itu adalah yang paling buruk dalam ingatan di daerah bagian

 timur-laut India.

B.      Para petugas pertolongan terhambat oleh hujan lebat dan angin kuat

 Pihak berwenang India mengatakan mereka menghubungi pejabat di Bangladesh

 meminta bantuan mencari korban selamat. Perdana Menteri India Manmohan Singh

             mengatakan ia terkejut dan berduka akibat insiden itu..





F. REFERENSI
·       Buku Keselamatan Pelayaran  DiLingkungan Teritorial
(  karangan Dr.D.A.Lasse,SH,MM )
·       Pelabuhan –Pemanduan Kapal
·       Collision Regulation 1974 Book
·       Web site .Detik com news
·       Website .VOI com news

Tidak ada komentar:

Posting Komentar